Mencintai memang adalah hal yang sangat manusiawi dari seorang manusia. Ketika diri kita telah menuju kedewasaan seperti saat ini maka salah satu hal yang akan menjadi bagian dari sesuatu yang kita pikirkan adalah mengenai pasangan hidup.
Pasangan hidup bagi beberapa orang dicari melalui proses pacaran, namun ada beberapa orang pula yang melalui proses taaruf ataupun saling mengenal untuk tahapan serius yakni menikah.
Banyak orang yang memuja proses pacaran, karena dari proses itu katanya dapat menjadi awal pendewasaan diri serta ajang saling memahami dan saling mengerti satu sama linnya. Acapkali hubungan yang kemudian tidak diteruskan karena alasan ketidak cocokan yang berujung “selingkuh” ataupun tidak akur lagi.
Kini aku bercerita tentang diriku, proses pacaran yang riil belum pernah kulalui, walaupun aku acapkali menyatakan cinta kepada beberapa orang gadis ketika aku duduk di kelas 1 SMP, tepatnya di SMP 5 Pekanbaru.
Jalanku dengan mereka tidak terlalu mulus, biasanya hanya karena mreka menjadi gadis yang diincar oleh banyak orang, dan aku mencoba menaklukkan hati mereka. Dan lumayan sukses, namun paling lama 2 minggu jalan lalu putus karena ternyata mereka dan diriku masih remaja dengan orientas yang tidak jelas.
Masa SMPku yang kedua adalah di SMP Wahidin Bagan Siapi-Api, disini aku harus menjalani SMP kedua berhubung pindahnya Alm Bapakku ke daerah ini. Disini kisah cintaku adem ayem saja berhubung aku lebih memilih bersahabat dengan siapa saja. Aku bersahabat cukup dekat dengan Hui Ling. Hui Ling adalah seorang gadis china yang menjadi idola di SMP pada waktu itu. Dan kebetulan kami nyambung bercerita akan banyak hal. Namun Hui Ling pindah ke jakarta untuk bekerja setamat SMP. dan mulai saat itu saya tak dapat lagi berbincang dengannya.
Ruri Septiarini adalah seorang sahabat saya yang waktu itu saya pun bingung menyebut apakah kami sahabat ataupun lebih dari itu. Ayahku dan ayahanda Ruri sama-sama berkerja di BRI BAA, dan kami pun lebih sering menghabiskan waktu berdua walaupun ia sendiri mempunyai pacar, kalau tidak salah namanya Tom.
Aku sendiri baru menyadari begitu dekatnya aku dengan dirinya ketika kami telah tidak bersua lagi. Aku harus pindah ke padang dan ia masih harus menyelesaikan SMU disana.
Namun kami masih sering kontak melalui handphone ataupun aku yang menghubungi dia ataupun sebaliknya, akan tetapi seiring waktu semuanya semakin berkurang frekuensinya. Terakhir ia telah menjadi seorang mahasiswi Universitas Islam Riau, dan tahun 2005 terakhir aku berjumpa dengannya.
Dalam masa SMU akupun kembali jatuh cinta kepada seorang gadis berkerudung putih, namanya Fitria Rini Elvina. Namun cintanya tak dapat kumiliki berhubung ia tak menyukaiku dan aku tetap memelihara rasa sukaku padanya sampai aku kuliah. Semester pertama kuliah aku tak lagi berorientasi untu pacaran. Aku hanyut dalam kesibukan kuliah dan berorganisasi, sampai saat ini aku menghitung sudah lebih dari 7 tahun aku tidak dekat dengan seorang wanitapun. Selama masa pacaran di masa remajaku aku tak pernah melakukan hal yang dilakukan remaja saat ini. Dan sampai saat ini secara jujur kunyatakan aku tak pernah menyentuh wajah wanita lain selain muhrimku. Apalagi lebih jauh dari itu, alhamdulillah yang diatas masih melindungiku. Saat ini aku berada di tahun-tahun akhir kuliah, orientasi untuk tamat kuliah dan bekerja menjadi prioritas utama yang harus kulakukan saat ini. Sudah 4 tahun ini aku berkomitmen untuk tidak berpacaran, tidak menyentuh yang bukan muhrim...
Semoga aku masih teguh menjalani prinsipku ini...
Dan Bidadariku... aku menunggu saat itu...
Saat aku pertama kali memandang wajahmu yang teduh...
Saat Ijab kabul telah mengijinkan kita saling memandang lebih lama...
Saat tangan dan wajahmu tak lagi enggan kusentuh..
Bersabarlah Ukhtiku sayang...
Saat itu Pasti datang,
Inyaallah.