Sunday, July 30, 2006

Kemana Cinta Harus Bersemi?

Cinta Acapkali membuat kita salah bertingkah,Cinta membuat kita bisa tersenyum sendiri. Ahh, saya sebenarnya ragu mengangkatkan topik ini, namun bagi anda yang membaca ambil yang baiknya saja ya…
Anda tahu, kalaulah anda bisa mencintai siapa saja, baik cinta terhadap orangtua, sahabat ataupun kekasih. Tanda-tanda orang yang mencintai kita ialah ia selalu ambil peduli terhadap apapun segi kehidupan kita. Ia berusaha menepati janji disaat ia berjanji dengan kita dan ia ada disaat yang lain tidak ada. Ia lebih tahu mengenai kita, kelebihan kita ataupun kekurangan kita. Tidakpun ia menyayangi kita dengan ucapan atau tindakan akan tetapi kita bisa membaca dengan melihat sinar matanya yang berbicara pada kita disaat bibirnya tak berujar.
Sejujurnya tidak ada yang lebih utama selain mencintai Alloh SWT dan Rasullullah Muhammad Saw, Memang cinta kita harus bersemi sejati kepada Illahi Robbi. Namun dalam konteks hubungan kita dengan manusia ada sebuah hadits shahih bukhari yang menyatakan bahwa bagi orang yang mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri dijanjikan oleh Alloh sebuah keutamaan akhirat yakni surga.
Namun hati-hati jangan salah kaprah dalam mencintai, alih-alih mencintai karena Alloh namun berbuat yang tidak diridhoiNya, oleh karena itu belajarlah mencintai sahabat kita hanya karena Alloh SWT.
Noegraha

KETIKA SBY INGIN BANGSANYA UNGGUL…

Berbicara mengenai bibit unggul tentunya semua orang akan menganalisa bahwa sebuah bibit unggul bukannya diperoleh dengan cara sim salabim begitu saja. Bagi seorang ayah dalam menanamkan kebiasaan-kebiasaan unggul terhadap anak-anaknya tak lepas dari sikap apa yang diterapkannya dalam kehidupan rumah tangga. Sifat unggul adalah mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai kejujuran,kedisiplinan dan kerja keras. Keinginan untuk menjadi unggul memang tidak bisa tidak hanya menjadi hiasan kata semata,karena bangsa kita mempuyai kebiasaan banyak bicara sedikit bekerja atau yang paling parah berbicara saja dan tiada bekerja.
Harian Kompas, Kamis 1 Desember 2005 memaparkan “ Presiden : Budaya Unggul Harus Jadi Budaya Kita” yang menuturkan keinginan Presiden agar Bangsa Indonesia dapat berbudaya Unggul seperti dikemukakan Presiden pada saat menghadiri peluncuran buku terbaru Stephen R. Covey The 8th Habit : From Effectiveness to Greatness. Unggul yang dimaksud disini adalah bahwa semangat dan kultur kita untuk mencapai kemajuan dengan cara “ Kita Harus Bisa, kita harus berbuat yang terbaik, kalau orang lain bisa mengapa kita tidak bisa”. Presiden juga menambahkan kalau Malaysia bisa kenapa kita tidak, kalau India bisa mengapa kita tidak, kalau ekonomi China bisa maju kenapa kita tidak.

Mr. SBY pasti bisa menjawab pertanyaan diatas tanpa harus kita jawab bersama, keinginan SBY yang menyatakan kalau Malaysia bisa semaju sekarang ini dengan income perkapita negaranya yang enam kali jauh diatas kita tentunya tak terlalu sulit dijawab,Untuk contoh kecil saja, suatu ketika saya pernah menjamu seorang sahabat dari Universitas terkemuka di Malaysia dan kami pun bercengkerama, tak terlalu sulit memang berbincang dengan encik yang satu ini karena yang pasti mereka belum lupa dengan bahasa ibu yakni bahasa melayu yang notabene tak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Saya pun bertanya mengenai perlakuan pemerintah terhadap pendidikan di negeri mereka, dan mereka pun menjawab bahwa pendidikan mendapat perhatian yang besar dari pemerintah mereka. Gaji guru dan dosen di negeri mereka jauh diatas gaji guru dan dosen di negeri ini, dan puak melayu diangkat harga dirinya karena begitu kuatnya proteksi yang diberikan agar puak melayu dapat berdiri sejajar dengan puak-puak lainnya. Meraka pun berujar bahwa ternyata banyak juga dosen –dosen mereka berasal dari Indon (singkatan mereka untuk Indonesia).
Agar bangsa ini menjadi bangsa unggul adalah dengan merealisasikan amanat UU yang telah diperkuat dengan amanat Mahkamah Konstitusi bahwa mutlak untuk APBN ke depan mengalokasikan anggaran minimal sebesar 20 % murni untuk pendidikan. Memberikan gaji yang layak bagi pahlawan tanpa tanda jasa serta menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang layak agar terselenggaranya proses transfer ilmu antara guru dan siswa didiknya dalam kondisi yang baik. Keunggulan sebuah bangsa tentunya tidak bisa dilepaskan dari peran serta seorang guru, guru yang mengajarkan seorang Jusuf Kalla bisa membaca, guru yang mengajarkan Agung Laksono berhitung ataupun guru yang mungkin pernah menjewer telinga Aburizal Bakrie.
Untuk pertanyaan berikutnya yakni mengapa India bisa dan kita tidak, yah karena kita memang bukan India, dan tingkat korupsi kita jauh lebih dahsyat ketimbang India.
Dan mengapa ekonomi china bisa maju dan kita tidak, karena di Pemerintahan China cukup sadar diri bahwa alangkah lebih baiknya kalau Presiden tak jadi Pengusaha.
Bukankah Mr SBY kerap kali kurang istirahat dan bahkan sempat kena flu beberapa waktu yang lalu karena memikirkan negara ini. Maka alangkah lebih baik pula menegur wakil presiden ataupun menteri-mentri yang selama ini menjadi pembantu didalam pemerintahannya untuk bisa memilih jadi menteri atau jadi saudagar saja!.
Kalaulah memang tak bisa diajak menjadi komunitas yang berbudaya unggul maka reshuffle mentri unggul dapat menjadi pilihan utama agar kabinet ini dapat menjadi unggul dengan orang-orang yang mau berbudaya unggul yang lebih berkompetensi untuk menduduki jabatannya tanpa ada embel-embel balas jasa.
Solusi berikutnya tentulah agar Mr. SBY dapat mengevaluasi diri dan memperbaikinya dalam waktu yang cepat, mulailah saat ini juga karena rakyat tak bisa hanya dibuai dengan tiga helai seratus ribuan untuk hidup tiga bulan disaat harga seluruh kebutuhan pokok semuanya telah membumbung naik.
Mengevaluasi secara efektif dan menjalankan pemerintahan yang memang sebenar Re-Publik yang memang menjadi tumpuan utama rakyat.
Cukup seluruh nasihat yang ada di buku Stephen .R.Covey dapat diimplementasikan oleh Mr. SBY agar kata-katanya dapat menjadi kenyataan dalam waktu dekat. Dan kita nantikan apakah memang serius kata-kata Mr. SBY yang menginginkan bangsa ini menjadi bangsa yang unggul dan berbudaya unggul pula?, hayo Mr. SBY karena Bersama Memang Kita Bisa!.

Menjadi Kader Dakwah Yang Dinamis, Kreatif dan Inovatif

Islam adalah agama yang dinamis. Bukankah agama ini turun untuk membawa rahmat bagi sekalian alam. Dinamisnya agama ini terlihat dari hadist Nabi Muhammad SAW bahwa andaikata ada 2 perkara ibadah maka aku akan mengambil yang paling mudah. Islam tidak memberatkan umatnya. Allah SWT di dalam surat Al Maidah ayat 6 pun mengisyaratkan secara jelas bahwa agama ini adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia.
Ketika kita beribadah sementara kita sakit maka kita bisa sholat sambil duduk atau berbaring. Begitu juga ketika kita sakit didalam mengerjakan puasa wajib di bulan ramadhan. Kita bisa menggantinya di lain waktu,dan begitu juga dengan wanita yang hamil serta orang tua yang udzur dimudahkan oleh Allah SWT dengan mengganti puasa mereka dengan Fidyah.
Kecintaan Rasulullah terhadap umatnya yang dinamis kreatif ataupun inovatif terlihat ketika Muadz berbincang dengan Nabi. Nabi bertanya mengenai hierarki perundang-undangan di dalam Islam andaikata ada masalah yang ia temui di hari depan. Muadz menjawab bahwa pertama dengan Al Quran, Kedua dengan sunnah dan terakhir dengan itjihad. Rasullullah SAW pun memanjatkan doa kepada Allah SWT agar Muadz dilapangkan dadanya untuk menggapai ridho Allah.
Nah, seperti inilah karakteristik seorang kader dakwah sejati, bermental dinamis, kreatif dan inovatif untuk mengoptimalkan fungsi pikiran yang Allah berfikan kepadanya. Inti dari dinamis kreatif dan inovatif adalah yakin dan berusaha untuk menemukan cara-cara baru yang lebih baik untuk mengerjakan apa saja.
Ditinjau dari aspek emosional mereka yang memiliki karakter dinamis kreatif dan inovatif mempunyai ciri-ciri sbb:
Hasrat untuk mengubah hal di sekelilingnya untuk menjadi lebih baik, kepekaan terhadap lingkungannya yang ditindaklanjuti dengan sikapnya yang terbuka terhadap segala sesuatu di sekelilingnya,mempunyai minat untuk menggali lebih dalam sesuatu yang ia lihat,memiliki antusiame dalam memecahkan suatu masalah,memiliki pemahaman yang dalam,mampu berkerja produktif dengan orang lain , mempunyai sifat menghargai orang lain, serta menghargai kritik dan saran orang lain dan mempunyai ketahanan mental yang baik, dan mempunyai selera humor yang baik.
Kemampuan intelektual seseorang yang dinamis kreatif dan inovatif secara intelektual tampak dari ciri-ciri tidak segan bertanya, menjawab dan memberikan gagasan secara fleksibel. Gagasan tersebut cenderung baru dan tidak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya. Daya kritis, evaluatif, imajinatif serta analisin menjadi pertanda ia dinamis kreatif dan inovatif didalam berpikir.
Kisah Salman Al Farisi yang memberikan usul kepada Rasullullah untuk membuat Khandak ataupun parit sebagai strategi untuk melindungi eksistensi Madinah dari serangan Yahudi Laknatullah merupakan salah satu contoh dari kader yang meiliki sifat dinamis,inovatif dan kreatif. Ataupun kisah Rasullullah sendiri yang menyelamatkan bangasa Arab dari perpecahan ketika terjadiperselisihan peletakan batu hajar aswad menjadi bukti bahwa Rasullullah sendiri adalah seseorang manusia mulia yang dinamis kreatif ataupun inovatif .Agar kita menjadi kader yang dinamis ataupun kreatif serta inovatif adalah dengan
-Percaya bahwa kita mampu melakukan sesuatu yang kita rasa kita tidak mampu
-Hapuskan kata gagal dan tidak mungkin dari kamus pikiran kita
-Berpikirlah ke depan dengan lebih baik
-Buka pikiran kita untuk menerima gagasan, kritikan ataupun perubahan
Semua kedinamisan kita, kreatifnya kita ataupun inovatifnya kita hanya akan bernilai ganda jika dilandasi dengan keimanan yang sempurna kepada Allah SWT dengan mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya serta mengikuti As Sunnah warisan Nabi yang Mulia Muhammad SAW.

Bumi Allah SWT
25 Dzulhijjah 1426 Hijriah

Seorang Moehammad Hatta dengan seorang Muhammad Jusuf Kalla…

“Mungkin tak seimbang dengan tugas yang diemban. Tetapi apa boleh buat, negara belum mempunyai kemampuan memberi gaji yang lebih layak,”
Wakil Presiden Jusuf Kalla (Kompas,27 November 2005).

Pemberitaan Kompas Sabtu 26 November 2005 yang mengambil headline mengenai kenaikan gaji wakil presiden memang sangat mengejutkan, mengejutkan karena begitu fantastis.
Hal yang fantastis ini ternyata tak lebih dari sebuah kekeliruan besar, dan ternyata Kompas dengan nama besarnya di dunia persuratkabaran Indonesia pun tak luput dari kesalahan yang kemudian diralat pada keesokan harinya.
Kesalahan Kompas ini saya rasa dapat memberikan makna lain kalaulah kita membaca sedikit kata-kata WaPres yang saya kutip diatas,kutipan yang memberi makna nada penyesalan menjadi wakil presiden di negara antah berantah ini.
Kata-kata yang menyatakan bahwa tak seimbangnya tugas yang diemban seorang jusuf kalla sebagai wakil presiden dengan gaji yang dirasa kurang memadai tentunya tak pantas diucapkan seorang wakil presiden yang seharusnya bersyukur karena ternyata gajinya telah jauh lebih layak. Lebih layak dibandingkan seorang pegawai negeri yang sudah puluhan tahun bekerja namun gajinya kurang lebih dari satu juta rupiah tanpa embel-embel tunjangan yang mampu menunjang kehidupan keluarganya.
Jusuf Kalla juga sempat berseloroh bahwa ternyata kenaikan gaji itu hanya angin surga yang dibuat oleh koran.
Jauh, sangat jauh dari mental seorang pemimpin, saya menyangka wapres akan marah kepada Kompas karena pemberitaan yang tidak berimbang tersebut. Siapa nyana yang terjadi jusuf kalla malah tersanjung dengan pemberitaan tersebut. Dan siapa sangka pula ia sedikit menyesalkan kemampuan negara yang belum layak memberikannya gaji yang lebih layak.
Adakah layak kalau wapres pertama RI kita perbandingkan dengan Seorang Wapres terkini RI?

ISLAM

Hidup PALESTINA...
Hidup HAMAS...
Hidup HEZBOLLAH...

ALLAHUAKBAR...
ALLAHUAKBAR...
ALLAHUAKBAR...

Janji Allah itu Pasti...
Bersabarlah Umat Muslim Dunia...
Kita Tidak Akan Kalah...
Allah SWT telah Berjanji Untuk Memenangkan Agama ini...
ISLAM...

Islam...
CahayaNya Takkan Pernah Sirna...

Saturday, July 29, 2006

Mahasiswa BerPartai Politik... Kenapa Tidak...

1.Berpolitik dijamin oleh Negara
2.Hak Asasi WNI
3.Pendewasaan sejak dini dalam meniti cita dalam berbangsa
4.Nah yang berikutnya silahkan ditambah sendiri....

Yang Kontra juga Boleh kasih komentar... tentunya yang mencerdaskan...

Aku, Cintaku dan Ukhtiku...

Mencintai memang adalah hal yang sangat manusiawi dari seorang manusia. Ketika diri kita telah menuju kedewasaan seperti saat ini maka salah satu hal yang akan menjadi bagian dari sesuatu yang kita pikirkan adalah mengenai pasangan hidup.
Pasangan hidup bagi beberapa orang dicari melalui proses pacaran, namun ada beberapa orang pula yang melalui proses taaruf ataupun saling mengenal untuk tahapan serius yakni menikah.
Banyak orang yang memuja proses pacaran, karena dari proses itu katanya dapat menjadi awal pendewasaan diri serta ajang saling memahami dan saling mengerti satu sama linnya. Acapkali hubungan yang kemudian tidak diteruskan karena alasan ketidak cocokan yang berujung “selingkuh” ataupun tidak akur lagi.
Kini aku bercerita tentang diriku, proses pacaran yang riil belum pernah kulalui, walaupun aku acapkali menyatakan cinta kepada beberapa orang gadis ketika aku duduk di kelas 1 SMP, tepatnya di SMP 5 Pekanbaru.
Jalanku dengan mereka tidak terlalu mulus, biasanya hanya karena mreka menjadi gadis yang diincar oleh banyak orang, dan aku mencoba menaklukkan hati mereka. Dan lumayan sukses, namun paling lama 2 minggu jalan lalu putus karena ternyata mereka dan diriku masih remaja dengan orientas yang tidak jelas.
Masa SMPku yang kedua adalah di SMP Wahidin Bagan Siapi-Api, disini aku harus menjalani SMP kedua berhubung pindahnya Alm Bapakku ke daerah ini. Disini kisah cintaku adem ayem saja berhubung aku lebih memilih bersahabat dengan siapa saja. Aku bersahabat cukup dekat dengan Hui Ling. Hui Ling adalah seorang gadis china yang menjadi idola di SMP pada waktu itu. Dan kebetulan kami nyambung bercerita akan banyak hal. Namun Hui Ling pindah ke jakarta untuk bekerja setamat SMP. dan mulai saat itu saya tak dapat lagi berbincang dengannya.
Ruri Septiarini adalah seorang sahabat saya yang waktu itu saya pun bingung menyebut apakah kami sahabat ataupun lebih dari itu. Ayahku dan ayahanda Ruri sama-sama berkerja di BRI BAA, dan kami pun lebih sering menghabiskan waktu berdua walaupun ia sendiri mempunyai pacar, kalau tidak salah namanya Tom.
Aku sendiri baru menyadari begitu dekatnya aku dengan dirinya ketika kami telah tidak bersua lagi. Aku harus pindah ke padang dan ia masih harus menyelesaikan SMU disana.
Namun kami masih sering kontak melalui handphone ataupun aku yang menghubungi dia ataupun sebaliknya, akan tetapi seiring waktu semuanya semakin berkurang frekuensinya. Terakhir ia telah menjadi seorang mahasiswi Universitas Islam Riau, dan tahun 2005 terakhir aku berjumpa dengannya.
Dalam masa SMU akupun kembali jatuh cinta kepada seorang gadis berkerudung putih, namanya Fitria Rini Elvina. Namun cintanya tak dapat kumiliki berhubung ia tak menyukaiku dan aku tetap memelihara rasa sukaku padanya sampai aku kuliah. Semester pertama kuliah aku tak lagi berorientasi untu pacaran. Aku hanyut dalam kesibukan kuliah dan berorganisasi, sampai saat ini aku menghitung sudah lebih dari 7 tahun aku tidak dekat dengan seorang wanitapun. Selama masa pacaran di masa remajaku aku tak pernah melakukan hal yang dilakukan remaja saat ini. Dan sampai saat ini secara jujur kunyatakan aku tak pernah menyentuh wajah wanita lain selain muhrimku. Apalagi lebih jauh dari itu, alhamdulillah yang diatas masih melindungiku. Saat ini aku berada di tahun-tahun akhir kuliah, orientasi untuk tamat kuliah dan bekerja menjadi prioritas utama yang harus kulakukan saat ini. Sudah 4 tahun ini aku berkomitmen untuk tidak berpacaran, tidak menyentuh yang bukan muhrim...
Semoga aku masih teguh menjalani prinsipku ini...
Dan Bidadariku... aku menunggu saat itu...
Saat aku pertama kali memandang wajahmu yang teduh...
Saat Ijab kabul telah mengijinkan kita saling memandang lebih lama...
Saat tangan dan wajahmu tak lagi enggan kusentuh..
Bersabarlah Ukhtiku sayang...
Saat itu Pasti datang,
Inyaallah.

Kampanye Pake Payung Bagi Laki-Laki... Hm...

Kuingin menulis sesuatu yang berarti malam ini, yah yang biasa menggugah siapapun yang membacanya. Hmm.. kurasa aku punya sebuah kisah untuk hari ini, kisah yang bermula dari rintik-rintik hujuan di kota padang. Aku seharusnya tak perlu basah sore itu, tetapi karena kebiasaanku yang senang berjalan kaki sehabis melakukan aktivitas di sari anggrek membuat kakiku terus saja berjalan, walaupun sesekali hujan mengenai tubuhku. Kondisi jalan dari Sari Anggrek menuju Caroline Cyber Café seyogyanya sangat nyaman kulalui pada hari-hari sebelumnya, akan tetapi pada kondisi hujan saat itu membuat jalanan menjadi semakin sempit. Jalanan memang telah dipersempit oleh para pedagang kaki lima yang menempati trotoar yang notabene merupakan hak publik.
Di simpang padang theater aku berpikir untuk segera menaiki kendaraan umum saja, dan aku segera menuju tenda yang ada di depanku agar dapat lebih mudah mendapat kendaraan. Tapi beberapa kendaraan yang lewat hanya kupandangi saja, hmm… disampingku aku melihat seorang bapak-bapak yang sudah cukup berumurduduk di aspal jalanan. Bapak itu teramat jelas berprofesi sebagai seorang pengemis, kakinya lumpuh dan basah kulihat celananya oleh air yang menggenangi jalanan waktu itu. Aku tak dapat memandang wajahnya karena ia membelakangiku, dan entah mengapa hasratku untuk menaiki kendaraan umum menjadi hilang. Kupikir lebih baik kubeli payung dan dapat kupakai pada keesokan harinya jika aku mengalami situasi yang sama.
bapak itu membuatku sedikit malu, karena sedikit basah saja lalu harus menaiki kendaraan, padahal aku kan bisa membeli payung dan dapat lebih bermanfaat untuk lain waktu, bagiku dan bagi adikku.
Aku berjalan dariBundaran Taqwa menuju Caroline CC, walaupun sempat kurang pede berhubung sangat jarang menggunakan payung dalam kondisi hujuan lebat sekalipun. namun aku tercerahkan oleh pemikiranku sendiri, mengapa harus malu pakai payung, lagian hujan men.. mending daripada basah...
Nah bagi lelaki yang selama ini malu pake payung, pake aja men...

NB : Sungguh aku bingung dengan tulisanku yang satu ini... apa maknanya ya... Kampanye Pake Payung... !@#$%^& Salam Penulisan... Hidup Arip...

Tuesday, July 25, 2006

Dian Anugrah...

Bu…

Bu ayo lihat bu
ayo bu…

Bu
lihatlah Bu
para pemimpin kita

Bu…
lihatlah Bu
pemimpin kita itu Bu
bajunya Bu
bagus ya Bu

Buu baju upik kok begini Bu
penuh tambalan bu…

Bu…
lihatlah Bu
pemimpin kita Bu
pake mobil bagus Bu
tapi upik kok hanya jalan kaki Bu
Bu…
dengarlah Bu…

ayo Bu lihat Bu
di seberang sana Bu
pemimpin kita
Bu…
dalam kotak berwarna itu
Bu…
makan malam Bu
tapi kita kok kelaparan Bu
Ibu

Oh anakku tidurlah nak
tak usah bicara lagi…
Gusti Allah Maha Tahu
mereka-mereka itu penghuni neraka
Dian Anugrah,2003

Dan aceh kembali berduka...

Coet Nyak...
Tak habis habisnya aceh berduka

tangisan kembali terdengar
jeritan disana sini memilukan hati

ada yang kehilangan anak
kehilangan bapak,ibu,dan semua saudara mereka

ohhhh....
Nyawang kembali berterbangan

kali ini bukan belanda
bukan pula gam ataupun jakarta

tapi hentakan Illahi akan aceh
dan jari jemarinya yang merengkuh banda
mengambil kembali miliknya

bisu...
dan airmataku kembali jatuh cot nyak

duka tanah rencong adalah dukaku jua

"adun,inang.. mari kita songsong kembali matahari bersama sama.."

Hasbunallahu wa ni'mal wakill ni'mal maula wa ni'man masiir
La Haula Walla Quwwata Illa Billah

Dian Anugrah, Bumi Allah 2005

Waktu terlalu cepat berlalu

Berlalu…
Aku
Disini
Tak lagi
Aku

Diriku hilang jiwa
Semua menatapku
Dan ku
Meradang
Tanpa
Rasa

Katamu
Kataku
Semua suka berkata-kata
Apa waktu jua berbicara

Ah
Jika waktu punya mulut
Pasti…
Pasti aku diejeknya..

Hoi…
“Aku menggilasmu…
Karna kau teramat bodoh”

Bodoh bodoh

Dian Anugrah 2005

Ya Rasullullah…Akankah…

Ya Rasullullah…
Salam kemuliaan atasmu
Salam kerinduan untukmu
Salam untukmu…
Duhai Nabi penutup para nabi
Ya Rasullullah…
tak pernah ku bersua denganmu
tak pernah kutatap wajahmu
tak pernah kudengar merdu suaramu
tak pernah YaRasul
tak Pernah Ya Rasul
tapi sunnahmu selalu kuharap ada padaku
Ya Rasullullah…
“Ummati
Ummati”
terucap di saat terakhir kau hembuskan nafas…
di dunia ini
Ya Rasullullah
Rasul yang Ummi
Rasul Pemimpin Para Nabi
Rasul Ya Habiballah
Akankah
Akankah
Daku bersua denganmu…,
daku ya Rasullullah
salah seorang yang mengaku Ummatmu
akankah ya Rasul…
akankah…
Sementara aku dililit dosa ya Rasul..
dosa yang mengotori hatiku
dosa yang mengotori langkahku
dosa yang mengotori jiwaku
dan
dosa yang seringkali menggoyahkan Tahta Imanku
akankah
akankah
akankah…
Allahumma shalli ala Muhammad
Allahumma shalli ala Muhammad
Allahumma shalli ala Muhammad
Shalawat Untukmu Ya Rasullullah
Shalawat Untukmu…


Dian Anugrah,Bumi Allah 2005

Sebait Lagu...

Sebait lagu yang sangat menghentak namun tidak semua orang pernah mendengar lagu ini.Lagu ini bukanlah keluaran label terkenal atupun lagu yang biasa dihidupkan di speaker-speaker usang buskota dan juga bukan lagu yang biasa dihidupkan kawula muda “gaul”. Bukan Peter pan ataupun Radja,inilah sedikit dari bait lagu itu,

Engkau ingin Berjuang Namun Tidak Mampu menerima Ujian
Engkau Ingin Berjuang Namun Rosak oleh Pujian
Engkau Ingin Berjuan Namun Tidak Mampu menerima Tuntunan
Engkau Ingin Berjuang Tapi Tidak Setia Kawan
Engkau Ingin Berjuang Tapi Tidak Sanggup Berkorban
Engkau Ingin Berjuang Tapi Tidak Sanggup Menerima Cobaan

Relatif memang kalaulah saya berkata bahwa anda yang membaca ini pun ikut tersentak, kita semua pastilah pejuang. Pejuang yang sedang menapak diri di bumi ini. Namun apakah kita bisa berjuang seikhlas mungkin ataupun mungkinkah kita mampu menerima ujian dan sanggupkah kita berkorban. Pertanyaan yang sangat menyesakkan untuk dijawab bukan,sedikit banyak cobalah kita merenungkan semua hal yang telah kita lakukan adakah semua itu tidak rusak oleh pujian

Mengenang Seorang Ayah…

Hmm, disaat saya mengemukakan judul ini pada diri saya sendiri tak terasa mata saya basah karena sedih. Sedih karena yang saya akan ceritakan hanyalah tinggal kenangan, Ia telah berpulang ke rahmatullah.
Kawan, saya ingin berbagi cerita akan sosok seorang ayah, yah saya pernah mengalami hari-hari yang indah bersama sosok seorang ayah yang tegas namun sangat penyayang. Kala itu bulan ramadhan 3 tahun yang lalu,awal ramadhan beliau dan ibu saya pergi berbelanja ke sebuah Dept Store di kota Padang. Tapi anehnya hanya saya yang dibelikan baju lebaran untuk saat itu, masih saya ingat ayahanda membelikan saya 5 stel baju dan sekitar 3 buah celana panjang. Dan saya sangat surprise, mengingat saya tidak terlalu dekat dengan ayahanda saya. Ayahanda saya acapkali memarahi saya walaupun bukan saya yang berbuat, namun karna saya anak yang tertua maka saya harus ikut bertanggung jawab.Kesal memang, tapi kini manis dikenang. Setiap pagi ke sekolah kami acapkali diantar oleh beliau, dan adik saya yang kedua-duanya adalah perempuan teramat dekat dengan sang ayah.
Saya kini di tiga tahun setelah masa-masa itu berlalu jua acapkali menagis sendiri bila mendengar senandung Ebiet Titip Rindu Buat Ayah, saya rindu sosok itu. Saya rindu dimarahi beliau, dan saya pernah berandai-andai mengapa saya tidak pernah mencoba untuk menunjukkan sesuatu yang lebih kepadanya. Saya juga ingin ia hadir disaat-saat saya membutuhkannya, disaat saya akan wisuda nanti, ataupun disaat saya akan menikah nanti.
Namun sosok itu takkan pernah kembali, hanya doa yang teruntai bila nurani merindukan sosoknya. Ayah… diriku takkan pernah berhenti merindukanmu.

Renungan Jum’at



Pernah saya merenung di keheningan sepertiga malam yang terakhir malam,ditemani suara istighfar dari seorang da;I kondang Aa’ Gymnastiar,kenikmatan malam itu mengalahkan malam-malam lainnya.. karna setiap beristighfar hati kita InsyaAllah akan diperkuatNya.

Malam seusai Isya sebelumnya saya mengirim sebuah SMS kepada seorang sahabat dan saya katakan bahwa saya sedang kebingungan dan ada sebuah kehampaan yang saya pun tidak mengerti, yang saya mengerti hanyalah saya sedang sedih karena seorang sahabat yang telah pergi. Lalu ia berkata:
“Akh (Saudaraku)..Lihatlah sekeliling Antum (Kamu) dengan satu sudut pandang saat ini, Antum akan kehilangan segalanya .. Yah segala yang Antum lihat itu akan hilang.. Dan Antum lihat sesuatu yang berharga yang menjadi suatu amanah yang penuh pengorbanan, amanah itu berada ditangan Antum. Apa saja.. yang telah antum dapatkan dan bayangkan semuanya hilang,rusak ataupun hancur dan apa yang antum lakukan setelah itu..
Pemuda islam adalah pemuda harapan yang dengan tangannya lahir sebuah kejayaan menapak kehidupan dengan cahaya iman bergerak maju untuk meraih kembali kebangkitan Islam..
Semangatnya bagai api yang menyala, dan terbukalah jiwa untuk terus berjuang..Pandangan matanya tebarkan cahaya yang menghapus angan-angan demi sebuah kemenangan.
Bangkitlah pemuda Islam satukan harapan penuh penantian dan wujudkanlah cita dan impian dengan kekuatan untuk kejayaan Islam.Allahuakbar..Allahuakbar.. Allahuakbar “

Dan saya pun bergumam di subuh hari membacanya..”Semoga ya Akhi.. Semoga.. Dan Syukron(Terimakasih) atas spirit ini.”
Noegraha

Mengenang Nilai Nilai Persahabatan

Nanggroe Aceh Darussalam, Desember 2004
Mengenal seorang sahabat yang hanya dalam beberapa hari saja kita sudah bisa saling berbagi dan memahami. Namun akhirnya terpisah oleh jarak.

Padang, Mei 2005
Berpisah dengan seorang sahabat, dan sangat menyesakkan memang. Lagi-lagi jarak jua yang memisahkan.

Jarak memang seringkali memisahkan kita dengan mereka yang kita inginkan ada dan menemani kita dalam setiap keadaan. Namun semua harus berjalan, dan kita harus siap atas semuanya. Ada perpisahan dan jua pertemuan, ada kehidupan dan kematian.
Alhasil hargailah setiap waktu yang ada dengan sahabat-sahabat kita karna bisa jadi kita akan merindukan waktu-waktu itu, namun ia tak lagi ada di sisi kita. Jadilah kita insan yang mampu menghargai nilai-nilai sebuah Persahabatan.
Noegraha

Bercerita tentang sebuah kenangan


Anda tahu bahwa kenangan adalah sebuah memori dari kisah-kisah yang telah lampau, acapkali kenangan lebih bersifat manis walaupun terkadang tidak semua kenangan itu manis. Kenapa kali ini saya angkat tema kenangan dalam tulisan saya saat ini, hanyalah karena saya terkenang akan sebuah cerita yang pernah saya lalui, kenangan yang saya ingin mengulangnya kembali.
Saya pernah mempunyai seorang sahabat yang ia memahami saya dan saya pun mengerti dia. Berbanggalah anda yang saat ini mempunyai sahabat yang menyayangi anda sayangi dan ia pun menyayangi anda karna tidak mudah mencari seorang sahabat. Sahabat yang acapkali dilukiskan didalam senandung-senandung melodi diletakkan dalam tataran seseorang yang bahkan melebihi seorang kekasih. Yah, sahabat sejati tidaklah mudah mencarinya, acapkali sulit menemukan seorang sahabat sejati. Saya pernah menyayangi seseorang sahabat seperti saya menyayangi diri saya sendiri, dan acapkali ia sangat saya butuhkan disetiap waktu saya karna saya butuh ia untuk menilai diri saya secara apa adanya. Karna ia mampu membuat seluruh masalah saya selesai hanya dengan memandang wajahnya.
Nah bagi anda yang saat ini mempunyai sahabat jagalah ia, jangan kecewakan ia, jangan sakiti hatinya, karna disaat ia tiada lagi di sisi anda maka anda hanya mampu menangis karna tiada lagi sosok yang selau hadir disaat-saat anda membutuhkannya. Akhir kata, cintailah sahabat anda seperti anda mencintai diri anda sendiri dan kalaulah anda bisa cintai ia karena Alloh SWT, agar anda pun mendapat kemuliaan atas kecintaan anda akan dirinya. Namun catat kata-kata saya dibait terakhir ini, Mereka yang mencintai hanya karena nafsu maka bersiap-siaplah untuk merugi dunia dan akhirat. Alloh Maha Tahu akan Suara Hati Kita.
Wallahualam Bis Showwab…

Mengukur Ilmu Kita



Semua manusia hidup di dunia hanyalah sementara, perkara usia rahasia Allah semata. Semua kesedihan dan kebahagiaan hanyalah kehendak yang satu.
Nah ada yang membuat saya tercenung beberapa hari yang lalu, bahwa tidak selamanya apa yang kita anggap baik itu baik, dan tidak seluruh yang buruk itu buruk pula bagi kita. Tergantung sejauh mana “ilmu” kita memandangnya.
“Ilmu” mengapa kata ini saya tandai, karna inilah yang ingin saya bahas. Bahwa ilmu kita tidak lebih dari air yang membasahi jari kita disaat kita mencelupkan jari itu kedalam lautan yang luas.
Coba kita ambil contoh kasus, ada sebuah keluarga yang hanya dikaruniai kehidupan yang serba biasa saja ataupun sering kekurangan, namun keluarga ini menghadapi kerasnya kehidupan dengan semangat dan usaha yang bagus, hari demi hari dilewati walaupun terkadang ada sebuah kegelisahan menatap masa depan, namun anak-anak dari keluarga itu lebih tahu cara menghargai sebuah pemberian dari orang tua mereka, semangat dan usaha orang tua mereka untuk menyekolahkan mereka sampai tingkat perguruan menjadi cambuk bagi mereka untuk mengoptimalkan diri mereka dengan prestasi Sehingga kini mereka menjadi anak-anak yang berhasil,pengusaha sukses, birokrat ulung.
Bisa jadi Allah memberikan Tarbiyah (Pendidikan) dengan tempaan rona kehidupan yang sulit sehingga di masa depan mereka menjadi orang-orang yang berhasil.
Namun ada pula diantara kita yang gagal diberikan tarbiyah oleh Allah, contoh terbesar ialah Bani Israel yang diberikan Tarbiyah oleh Allah dijajah Firaun agar mereka kedepan menjadi hamba yang tahu bersyukur, namun nyatanya mereka sampai saat ini menjadi umat yang dihinakan seluruh makhluk kecuali jajaran syaithan dan iblis.
Hari ini tergantung kita, jangan sampai kita menilai segala sesuatu dari satu sudut pandang saja, cobalah untuk bersabar atas segala keadaan. Karna bisa jadi itulah yang terbaik untuk kita dan mereka yang ada disisi kita, atau bisa jadi karana kasih sayang Allahlah sehingga semua cobaan dan kedukaan itu menimpa kita.
Yuk, mulai saat ini kita berbaik sangka kepada Allah Sang Pencipta, agar ia pun berbaik sangka kepada kita.Noegraha

Me and Ferry Dwi Putranto


Foto ini diambil oleh Fadli (IPB) disaat kami berempat singgah di salah satu tempat rekreasi rakyat di Bangka Belitung, cukup melelahkan... karena Nakhoda (Ferry) belum menguasai tekhnik pelayaran yang baik...
Teruskan... Teruskan...


Me and My Best Friend...
Ya... Mereka adalah sahabat terbaikku dalam Pelayaran Kebangsaan 2006

Menatap layang-layang


Suatu sore saya pernah duduk santai didepan sebuah kedai , dari sana saya menatap jauh ke perbukitan yang ada di balik kubah masjid NurRahman nan anggun. Ada yang menarik perhatian saya, apa itu, yah sebuah layang-layang yang dengan gemulainya menari-nari diatas langit yang kala itu cerah. Lalu saya berujar, pastilah ada seutas benang yang menghubungkan layangan itu dengan tuannya, kalaulah tidak mana mungkin layangan itu berada di atas langit. Namun saya kesulitan melihat benang itu, namun saya meyakini pasti ada benangnya.
Kawan.. Layangan ini seakan memberikan pelajaran kepada kita, yah.. Kita pun sebuah “layangan”. Karna tidak mungkin kita ada begitu saja di dunia ini tanpa alasan. Coba kita renungkan, tidak akan mungkin selamanya layangan itu berada di atas sana. Pastilah akan turun suatu saat nanti untuk kembali ada di genggaman tuannya. Nah kita pun tak jauh beda, kita pun tidak selamanya di dunia ini, ada saatnya kita akan kembali kepada tuan kita, yakni Allah Azza Wajalla.
Janganlah sampai kita menjadi layangan yang putus, apakah dengan putusnya layangan itu maka ia akan kehilangan kendali tuannya. Tidak kawanku, bagaimanapun juga layangan itu pastilah akan jua dipeluk bumi. Dan bagaimanapun kita, baik ataupun buruk, hanyalah ia tempat kembali kita, hanyalah ia tempat kita bergantung, atas seluruh pengharapan yang pernah kita gantungkan dalam sanubari kita masing-masing. Wassalam
Noegraha

Bagaimana memahami keberadaan Allah?


Tumbuhan, binatang, lautan, gunung-gunung, dan manusia disekitar kita, dan semua jasad renik yang tidak kasat mata – hidup ataupun mati, merupakan bukti nyata adanya Kebijakan Agung yang menciptakannya. Demikian pula dengan kesetimbangan, keteraturan dan penciptaan sempurna yang nampak di seluruh jagat. Semuanya membuktikan keberadaan Pemilik pengetahuan agung, yang menciptakannya dengan sempurna. Pemilik kebijakan dan pengetahuan agung ini adalah Allah.
Sistem-sistem sempurna yang diciptakanNya serta sifat-sifat yang mengagumkan pada setiap mahluk, hidup maupun mati, menimbulkan kesadaran akan keberadaan Allah. Kesempurnaan ini tertulis dalam Al-Qur’an:
Dia menciptakan tujuh langit yang berlapis-lapis. Tak akan ditemui sedikit cacatpun dari ciptaanNya. Perhatikan berkali-kali - apakah engkau melihat kekurangan padanya? Lalu, perhatikanlah sekali lagi. Matamu akan silau dan lelah!
(Surat Al-Mulk: 3-4)Noegraha

Dian Anugrah

Monday, July 24, 2006

Pelayaran Kebangsaan 2006

Usai sudah pelayaran kebangsaan 2006, akan tetapi banyak yang ternyata harus dipikul oleh peserta pelayaran tersebut, kondisi berbangsa di Indonesia ternyata mencapai titik yang cukup mengkhawatirkan. ada satu hal yang membuat saya gundah,yakni visi berbangsa kawan-kawan PK yang saya anggap masih bermasalah.
suatu ketika kami beberapa kawan-kawan PK berangkat ke Sekolah Berwawasan kebangsaan, yakni sekolah Setia Budi di Bangka Belitung, tepatnya di daerah sungai liat. Sekolah itu menyuguhkan keberagaman Indonesia, dimana merupakan satu-satunya seko;lah yang pernah saya lihat mempunyai 5 tempat ibadah, baik itu untuk umat muslim,budha,kristiani ataupun hindu dan yang lainnya.
akan tetapi permasalahannya ialah ketika saya bertanya kepada 5 orang sisiwi muslim di sekolah itu, pertanyaan saya sangat sederhana, "dik, mengapa kakak tidak melihat satu orang sisiwi muslim mengenakan jilbab?" mereka menjawab bahwa mereka sangat ingin sekali memakai jilbab, akan tetapi mereka dilarang keras oleh pihak sekolah untuk memakai jilbab. dan saya pun sangat kecewa dengan sekolah yang katanya berwawasan kebangsaan ini.
hal ini saya diskusikan dengan guru dan diknas setempat, hal yang serupa juga saya sampaikan ketika dialog dengan penduduk cina perantauan di bangka belitung. mereka berjanji akan menganalisa dan mencarikan jalan terbaik untuk permasalahan tersebut.
Marilah kita dalam berbangsa mendudukkan bahwa tidak selamanya keseragaman dapat menjadikan konflik itu tiada. bangsa indonesia mengakomodir umat beragama dan tidak ada alasan apapun yang dapat menghalangi seorang muslim menggunakan jilbab ataupun seorang kristiani menggunakan rosario. marilah dalam berbangsa kita biasakan budaya menghargai perbedaan, karena kita Indonesia memang terdiri dari bangsa,agama dan suku yang berbeda dalam berbangsa.

Sunday, July 02, 2006

dan aku menulis lagi...

ketika malam bercerita kepadaku tentang kasih sayangnya yang tak lagi pernah ada di hatiku...
aku rindu kasih sayang itu...

aku tahu kalau saat ini diriku masih memegang teguh janji untuk tidak menjalin hubungan ataupun pacaran dengan seorang wanita...
karena aku seorang muslim...
dan seorang muslim haruslah menjaga akidahnya
menjaga akhlaknya
tolong dian ya Alloh
dan sepenuhnya Engkaulah yang Terbaik toek mengetahui apa yang sebaiknya kujalani di masa yang Kau miliki ini...

aku bingung...

hmmm
entah mau kemana malam ini
mau ke rumah juga baru keluar dari rumah
kemana ne
rencana kerumah timmy aja...
tapi...
ahhh...
jauhhh ke tabing....
duh bener-nemer bingung...

Wednesday, June 28, 2006

aku sayang ibuku

hari ini adalah hari ke 3 dalam minggu ke 2 aku ujian semestran di kampoes tercinta Fakultas Hukum Universitas Andalas.
lumayan sukses,
namun aku kesini ke ruang kecilku di internet aku ingin nyatakan satu hal kalo aku sangat menyayangi ibuku...
bu... dian akan buktikan pada ibu kalo dian akan jadi yang terbaik...
aminnn

Monday, June 12, 2006

tuk pertama kalinya ku buat blog..

yup... tuk pertama kalinya kubuat blog
ternyata terkabul juga,
thanks for bang febi yng udah ngenalin ana dengan c@ net... hmmm ngratiss main internet sepuasnya...

tapi klo malam hari ya bang...

ga pa pa deh...

yang penting gratisnya... he he he
ngantukk

pulangggg