Menatap layang-layang

Suatu sore saya pernah duduk santai didepan sebuah kedai , dari sana saya menatap jauh ke perbukitan yang ada di balik kubah masjid NurRahman nan anggun. Ada yang menarik perhatian saya, apa itu, yah sebuah layang-layang yang dengan gemulainya menari-nari diatas langit yang kala itu cerah. Lalu saya berujar, pastilah ada seutas benang yang menghubungkan layangan itu dengan tuannya, kalaulah tidak mana mungkin layangan itu berada di atas langit. Namun saya kesulitan melihat benang itu, namun saya meyakini pasti ada benangnya.
Kawan.. Layangan ini seakan memberikan pelajaran kepada kita, yah.. Kita pun sebuah “layangan”. Karna tidak mungkin kita ada begitu saja di dunia ini tanpa alasan. Coba kita renungkan, tidak akan mungkin selamanya layangan itu berada di atas sana. Pastilah akan turun suatu saat nanti untuk kembali ada di genggaman tuannya. Nah kita pun tak jauh beda, kita pun tidak selamanya di dunia ini, ada saatnya kita akan kembali kepada tuan kita, yakni Allah Azza Wajalla.
Janganlah sampai kita menjadi layangan yang putus, apakah dengan putusnya layangan itu maka ia akan kehilangan kendali tuannya. Tidak kawanku, bagaimanapun juga layangan itu pastilah akan jua dipeluk bumi. Dan bagaimanapun kita, baik ataupun buruk, hanyalah ia tempat kembali kita, hanyalah ia tempat kita bergantung, atas seluruh pengharapan yang pernah kita gantungkan dalam sanubari kita masing-masing. Wassalam
Noegraha


0 Comments:
Post a Comment
<< Home