Tuesday, July 25, 2006

Mengukur Ilmu Kita



Semua manusia hidup di dunia hanyalah sementara, perkara usia rahasia Allah semata. Semua kesedihan dan kebahagiaan hanyalah kehendak yang satu.
Nah ada yang membuat saya tercenung beberapa hari yang lalu, bahwa tidak selamanya apa yang kita anggap baik itu baik, dan tidak seluruh yang buruk itu buruk pula bagi kita. Tergantung sejauh mana “ilmu” kita memandangnya.
“Ilmu” mengapa kata ini saya tandai, karna inilah yang ingin saya bahas. Bahwa ilmu kita tidak lebih dari air yang membasahi jari kita disaat kita mencelupkan jari itu kedalam lautan yang luas.
Coba kita ambil contoh kasus, ada sebuah keluarga yang hanya dikaruniai kehidupan yang serba biasa saja ataupun sering kekurangan, namun keluarga ini menghadapi kerasnya kehidupan dengan semangat dan usaha yang bagus, hari demi hari dilewati walaupun terkadang ada sebuah kegelisahan menatap masa depan, namun anak-anak dari keluarga itu lebih tahu cara menghargai sebuah pemberian dari orang tua mereka, semangat dan usaha orang tua mereka untuk menyekolahkan mereka sampai tingkat perguruan menjadi cambuk bagi mereka untuk mengoptimalkan diri mereka dengan prestasi Sehingga kini mereka menjadi anak-anak yang berhasil,pengusaha sukses, birokrat ulung.
Bisa jadi Allah memberikan Tarbiyah (Pendidikan) dengan tempaan rona kehidupan yang sulit sehingga di masa depan mereka menjadi orang-orang yang berhasil.
Namun ada pula diantara kita yang gagal diberikan tarbiyah oleh Allah, contoh terbesar ialah Bani Israel yang diberikan Tarbiyah oleh Allah dijajah Firaun agar mereka kedepan menjadi hamba yang tahu bersyukur, namun nyatanya mereka sampai saat ini menjadi umat yang dihinakan seluruh makhluk kecuali jajaran syaithan dan iblis.
Hari ini tergantung kita, jangan sampai kita menilai segala sesuatu dari satu sudut pandang saja, cobalah untuk bersabar atas segala keadaan. Karna bisa jadi itulah yang terbaik untuk kita dan mereka yang ada disisi kita, atau bisa jadi karana kasih sayang Allahlah sehingga semua cobaan dan kedukaan itu menimpa kita.
Yuk, mulai saat ini kita berbaik sangka kepada Allah Sang Pencipta, agar ia pun berbaik sangka kepada kita.Noegraha

0 Comments:

Post a Comment

<< Home