Sunday, July 30, 2006

Seorang Moehammad Hatta dengan seorang Muhammad Jusuf Kalla…

“Mungkin tak seimbang dengan tugas yang diemban. Tetapi apa boleh buat, negara belum mempunyai kemampuan memberi gaji yang lebih layak,”
Wakil Presiden Jusuf Kalla (Kompas,27 November 2005).

Pemberitaan Kompas Sabtu 26 November 2005 yang mengambil headline mengenai kenaikan gaji wakil presiden memang sangat mengejutkan, mengejutkan karena begitu fantastis.
Hal yang fantastis ini ternyata tak lebih dari sebuah kekeliruan besar, dan ternyata Kompas dengan nama besarnya di dunia persuratkabaran Indonesia pun tak luput dari kesalahan yang kemudian diralat pada keesokan harinya.
Kesalahan Kompas ini saya rasa dapat memberikan makna lain kalaulah kita membaca sedikit kata-kata WaPres yang saya kutip diatas,kutipan yang memberi makna nada penyesalan menjadi wakil presiden di negara antah berantah ini.
Kata-kata yang menyatakan bahwa tak seimbangnya tugas yang diemban seorang jusuf kalla sebagai wakil presiden dengan gaji yang dirasa kurang memadai tentunya tak pantas diucapkan seorang wakil presiden yang seharusnya bersyukur karena ternyata gajinya telah jauh lebih layak. Lebih layak dibandingkan seorang pegawai negeri yang sudah puluhan tahun bekerja namun gajinya kurang lebih dari satu juta rupiah tanpa embel-embel tunjangan yang mampu menunjang kehidupan keluarganya.
Jusuf Kalla juga sempat berseloroh bahwa ternyata kenaikan gaji itu hanya angin surga yang dibuat oleh koran.
Jauh, sangat jauh dari mental seorang pemimpin, saya menyangka wapres akan marah kepada Kompas karena pemberitaan yang tidak berimbang tersebut. Siapa nyana yang terjadi jusuf kalla malah tersanjung dengan pemberitaan tersebut. Dan siapa sangka pula ia sedikit menyesalkan kemampuan negara yang belum layak memberikannya gaji yang lebih layak.
Adakah layak kalau wapres pertama RI kita perbandingkan dengan Seorang Wapres terkini RI?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home