Sunday, July 30, 2006

KETIKA SBY INGIN BANGSANYA UNGGUL…

Berbicara mengenai bibit unggul tentunya semua orang akan menganalisa bahwa sebuah bibit unggul bukannya diperoleh dengan cara sim salabim begitu saja. Bagi seorang ayah dalam menanamkan kebiasaan-kebiasaan unggul terhadap anak-anaknya tak lepas dari sikap apa yang diterapkannya dalam kehidupan rumah tangga. Sifat unggul adalah mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai kejujuran,kedisiplinan dan kerja keras. Keinginan untuk menjadi unggul memang tidak bisa tidak hanya menjadi hiasan kata semata,karena bangsa kita mempuyai kebiasaan banyak bicara sedikit bekerja atau yang paling parah berbicara saja dan tiada bekerja.
Harian Kompas, Kamis 1 Desember 2005 memaparkan “ Presiden : Budaya Unggul Harus Jadi Budaya Kita” yang menuturkan keinginan Presiden agar Bangsa Indonesia dapat berbudaya Unggul seperti dikemukakan Presiden pada saat menghadiri peluncuran buku terbaru Stephen R. Covey The 8th Habit : From Effectiveness to Greatness. Unggul yang dimaksud disini adalah bahwa semangat dan kultur kita untuk mencapai kemajuan dengan cara “ Kita Harus Bisa, kita harus berbuat yang terbaik, kalau orang lain bisa mengapa kita tidak bisa”. Presiden juga menambahkan kalau Malaysia bisa kenapa kita tidak, kalau India bisa mengapa kita tidak, kalau ekonomi China bisa maju kenapa kita tidak.

Mr. SBY pasti bisa menjawab pertanyaan diatas tanpa harus kita jawab bersama, keinginan SBY yang menyatakan kalau Malaysia bisa semaju sekarang ini dengan income perkapita negaranya yang enam kali jauh diatas kita tentunya tak terlalu sulit dijawab,Untuk contoh kecil saja, suatu ketika saya pernah menjamu seorang sahabat dari Universitas terkemuka di Malaysia dan kami pun bercengkerama, tak terlalu sulit memang berbincang dengan encik yang satu ini karena yang pasti mereka belum lupa dengan bahasa ibu yakni bahasa melayu yang notabene tak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Saya pun bertanya mengenai perlakuan pemerintah terhadap pendidikan di negeri mereka, dan mereka pun menjawab bahwa pendidikan mendapat perhatian yang besar dari pemerintah mereka. Gaji guru dan dosen di negeri mereka jauh diatas gaji guru dan dosen di negeri ini, dan puak melayu diangkat harga dirinya karena begitu kuatnya proteksi yang diberikan agar puak melayu dapat berdiri sejajar dengan puak-puak lainnya. Meraka pun berujar bahwa ternyata banyak juga dosen –dosen mereka berasal dari Indon (singkatan mereka untuk Indonesia).
Agar bangsa ini menjadi bangsa unggul adalah dengan merealisasikan amanat UU yang telah diperkuat dengan amanat Mahkamah Konstitusi bahwa mutlak untuk APBN ke depan mengalokasikan anggaran minimal sebesar 20 % murni untuk pendidikan. Memberikan gaji yang layak bagi pahlawan tanpa tanda jasa serta menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang layak agar terselenggaranya proses transfer ilmu antara guru dan siswa didiknya dalam kondisi yang baik. Keunggulan sebuah bangsa tentunya tidak bisa dilepaskan dari peran serta seorang guru, guru yang mengajarkan seorang Jusuf Kalla bisa membaca, guru yang mengajarkan Agung Laksono berhitung ataupun guru yang mungkin pernah menjewer telinga Aburizal Bakrie.
Untuk pertanyaan berikutnya yakni mengapa India bisa dan kita tidak, yah karena kita memang bukan India, dan tingkat korupsi kita jauh lebih dahsyat ketimbang India.
Dan mengapa ekonomi china bisa maju dan kita tidak, karena di Pemerintahan China cukup sadar diri bahwa alangkah lebih baiknya kalau Presiden tak jadi Pengusaha.
Bukankah Mr SBY kerap kali kurang istirahat dan bahkan sempat kena flu beberapa waktu yang lalu karena memikirkan negara ini. Maka alangkah lebih baik pula menegur wakil presiden ataupun menteri-mentri yang selama ini menjadi pembantu didalam pemerintahannya untuk bisa memilih jadi menteri atau jadi saudagar saja!.
Kalaulah memang tak bisa diajak menjadi komunitas yang berbudaya unggul maka reshuffle mentri unggul dapat menjadi pilihan utama agar kabinet ini dapat menjadi unggul dengan orang-orang yang mau berbudaya unggul yang lebih berkompetensi untuk menduduki jabatannya tanpa ada embel-embel balas jasa.
Solusi berikutnya tentulah agar Mr. SBY dapat mengevaluasi diri dan memperbaikinya dalam waktu yang cepat, mulailah saat ini juga karena rakyat tak bisa hanya dibuai dengan tiga helai seratus ribuan untuk hidup tiga bulan disaat harga seluruh kebutuhan pokok semuanya telah membumbung naik.
Mengevaluasi secara efektif dan menjalankan pemerintahan yang memang sebenar Re-Publik yang memang menjadi tumpuan utama rakyat.
Cukup seluruh nasihat yang ada di buku Stephen .R.Covey dapat diimplementasikan oleh Mr. SBY agar kata-katanya dapat menjadi kenyataan dalam waktu dekat. Dan kita nantikan apakah memang serius kata-kata Mr. SBY yang menginginkan bangsa ini menjadi bangsa yang unggul dan berbudaya unggul pula?, hayo Mr. SBY karena Bersama Memang Kita Bisa!.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home